Kamis, 06 Maret 2014

Transformasi

Apakah kalian pernah mendengar kisah transformasi elang?? suatu masa menyakitkan bagi elang harus terbang ke atas gunung, menyendiri dan melampaui masa memilukan untuk tetap bertahan hidup. Saat si elang mulai renta, dia dihadapkan pada dua pilihan, bertransformasi di atas gunung atau mati. Pilihan yang sulit tentunya. jika dia memilih bertransformasi dia harus terbang ke atas gunung menyepi dalam kesendirian, mencabuti bulu dan cakarnya sendiri, serta mematahkan paruhnya yang sudah panjang pada batu yang besar. Hiiiii.. proses hidup yang sangat tragis bukan? tapi itu pilihan, pilihan dalam hidup, mati sia-sia atau transformasi untuk hidup berpuluh-puluh tahun lagi dengan cakar,bulu dan paruh yang baru. Saya sangat tersentuh dengan kisah ini, kisah dalam menghadapi pilihan yang sulit. Kisah yang paling ditakuti oleh manusia, yaitu bertransformasi dalam kesakitan, kemurungan, kekurangan dan kesendirian. sewaktu saya berkata pada teman saya yang sulit berkeputusan, saya sampaikan kata transformasi elang, sontak dia menjawab :"ya itu elang, ak manusia!" Benar jawabannya, pada saat itu saya juga tak tau bagaimana dan mau jadi apa setelah memilih bertransformasi. Namun saya tetap mengambil keputusan bak pemberani untuk mengambil langkah "transformasi" dalam perubahan hidup saya. Sekarang yang saya rasakan memang benar proses ini menyakitkan, merasa berkekurangan, tetapi dibalik itu saya telah terbebas dari semua kemunafikan yang saya jalani sebelum bertransformasi. Masa ini melatih saya untuk bersabar, memaknai hidup, mensyukuri waktu dan menyambut hidup lebih baru. Walaupun belum tentu setelah masa ini berakhir saya akan lebih baik di mata orang, tetapi saya tetap menjadi lebih baik, apa salahnya kita optimis dan tegas dalam berkeputusan, apa gunanya bemunafik diri kalau kita tidak merasa nyaman dalam suatu bioma. Yahhh.. ini masa saya, tramsformasi itu belajar dan saya telah belajar bertransormasi!!!!

Rabu, 05 Maret 2014

belajar dimanapun kapanpun

hmmm... menjemukan memang mendengar istilah belajar bagi yang tidak menyukai membaca menulis apalagi bagi yang sebentar lagi ujian (kelas 6,9 dan 12). Menurut pengalaman, biasanya pada kelas-kelas tersebut pada semester genap jarang tercipta kegiatan belajar mengajar yang utuh, uppss apa artinya? artinya tidak seformal kelas lain pelaksanaan pembelajarannya, pendahuluan, apersepsi,motivasi,kegiatan inti dengan berbagai metode dan model pembelajaran, kesimpulan serta penutup, sudah jarang terlaksana. Hanya biasa ditemui guru yang membahas soal UN membahas kisi-kisi secara kontinyu, bahkan ada yang tanpa berganti metode hanya sekedar teacher centered learning. Pembelajaran berpusat pada guru bukan pada murid. Saya lebih percaya pada istilah "sama-sama belajar" entah itu guru ataupun murid, kita sama-sama belajar. Dalam suasana belajar, guru dijadikan sebagai teman belajar yang tidak selalu benar, bisa jadi si murid lebih tau mengenai sebuah masalah. Ini menggiring murid belajar mengkritisi sebuah permasalahan serta meningkatkan daya debat si murid. belajar tidak harus di sekolah!! itu jargon saya. Walaupun saya lulusan sarjana pendidikan yang diciptakan sebagai guru, tetapi setelah saya malang melintah berkutat dengan sekolah justru saya mencoba mengkritisi fenomena yang terjadi dalam sekolah. Jika sekolah hanya tujuannya mendapat ijazah, untuk apa harus bayar mahal, menunggu enam tahun di bangku sekolah dasar? toh ada banyak cara mendapat ijazah kalau yang dikejar hanya selembar ijazah. Belajar bisa dimana saja, tapi tidak murni saya mengkritisi sekolah, saya hanya mencoba menyadarkan orang-orang dengan konsep belajar untuk sebuah ijazah. kalau tujuannya sekolah untuk mendapatkan ilmu dalam mata pelajarannya itu sangat amazing pasti dan saya setuju. Lihatlah kasus jual beli ijazah yang memprihatinkan, itu untuk apa lagi? boro-boro ilmu yang di dapat, tapi bisa masuk bui.... yukk belajar, dari siapapun kita bisa belajar. Saya yakin gelandanganpun walaupun mereka tak merasakan sekolah tetapi mereka belajar. Bukan belajar rumus fisika tentunya melainkan belajar berspekulasi untuk bertahan hidup. Itu juga saya sebut belajar